Pertanyaan pertama yang selalu perlu diajukan sebelum kita membicarakan segala hal soal anak, adalah: “untuk kepentingan siapa, kita bicara soal itu? untuk kepentingan anak ataukah untuk kepentingan orangtua?”
Demikian juga dengan IQ. Kalau bicara tentang IQ, kita perlu jelas dulu apa yang dimaksud. IQ dalam artian angka nilai penunjuk tingkat kecerdasan, atau kita mau bicara kecerdasan yang secara ringkas bisa dipahami sebagai kemampuan untuk mengolah dan memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki agar dapat hidup lebih baik. Kalau kita bicara untuk kepentingan anak, maka kita bicara soal kecerdasan, bukan soal angka nilai penunjuk tingkat kecerdasan.
Kalau kita bicara soal kecerdasan, pada prinsipnya hal itu berkaitan erat dengan kemampuan belajar. Semakin tinggi tingkat kecerdasan individu, semakin tinggi juga kemampuan belajar yang dimiliki. Dengan demikian, wajar kalau individu yang kurang cerdas kurang memiliki minat belajar.
Masalahnya, kita tidak boleh secara membabi buta menyimpulkan bahwa anak yang kurang memiliki minat belajar adalah anak-anak yang kurang cerdas. Artinya, mereka yang kurang cerdas memang akan cenderung kurang memiliki minat belajar; tetapi mereka yang kurang memiliki minat belajar, tidak selalu berarti kurang cerdas. Ada banyak faktor yang membuat mereka tidak memiliki minat belajar, dan beberapa diantaranya sama sekali tidak berkaitan dengan kecerdasan.
Faktor paling rawan adalah kurangnya pemahaman orangtua dan/atau guru, tentang belajar. Seringkali, anak-anak jadi enggan atau malas belajar, justru karena mereka disuruh belajar. Tidak ada satupun anak yang mau disuruh belajar. Justru, kalau ada anak yang mau disuruh belajar, berarti ia ada di luar kategori normal. Hal ini penting diperhatikan karena berkaitan dengan proses perkembangan kecerdasan. Kalau kita mau anak-anak belajar, maka yang kita perlu lakukan adalah menyuruh mereka bermain. Makin banyak aktivitas bermain yang anak lakukan, makin banyak juga proses belajar yang terjadi, yang pada gilirannya berarti makin bagus juga perkembangan kecerdasannya.
Mengapa bermain? Ya, karena bermain akan mengakomodasi proses asimilasi (pertemuan informasi lama (di dalam ingatan) dan informasi baru) serta proses akomodasi (percampuran informasi lama dan informasi baru guna membentuk pemahaman dan pemaknaan baru). Hal ini yang akan membuat saraf-saraf di otak dirangsang untuk saling terhubung dan berkaitan. Hal itu yang membuat potensi kecerdasan seseorang bertumbuh dan berkembang mencapai batas optimal sesuai kapasitas yang dimiliki. Kalau tidak terjadi proses itu, maka saraf-saraf di otak itu akan seperti jalan-jalan di kompleks perumahan yang walaupun jalannya ada dan banyak, tapi buntu semua karena diportal, sehingga tetap saja tidak bisa dimanfaatkan secara optimal.
Selain asimilasi dan akomodasi, proses lain yang penting diperhatikan, bahkan juga menjadi faktor yang menentukan adanya perbedaan tingkat kecerdasan antar individu, adalah proses ekuilibrium. Ketika kita kemasukan informasi baru, maka sistem kecerdasan kita mengalami gangguan keseimbangan. Kalau proses ekuilibrium berjalan baik, maka proses asimilasi dan akomodasi akan berjalan baik. Kalau proses ekuilibrium tidak optimal, proses asimilasi dan akomodasi juga akan terganggu, sehingga proses belajar secara keseluruhan juga terganggu.
Berkait fenomena tes-IQ yang masih marak, hal yang paling perlu diperhatikan adalah untuk apa tes itu dilakukan. Artinya, kalau orangtua mengetahui angka nilai IQ yang dimiliki anak, apa tindaklanjutnya kemudian? Apa perbedaan yang akan memberikan nilai tambah untuk si anak, setelah diketahui angka nilai IQ yang dimiliki. Kalau memang tes itu dilakukan untuk kepentingan anak, maka orangtua punya tanggungjawab untuk memastikan pengetahuannya tentang angka nilai IQ anak akan membawa manfaat buat si anak.
Simpulan: keluar uang untuk mengetahui angka nilai IQ anak, tidak akan banyak memberi manfaat. Justru, keluar uang untuk menyediakan kesempatan seluas-luasnya untuk mencoba, menelusuri, meng-utak-atik, bertanya dan mencari jawaban, adalah hal yang akan jauh lebih bermanfaat buat anak-anak.
©20090225/ge4jtv/pojok.ibu.ibu