golput = menuju dewasa

March 14, 2009

makin mendekati hari pemilihan, makin sering kita dengar atau baca, himbauan untuk berpartisipasi dalam pemilu dan ga ikutan golput.

aku, seperti biasa.. mencoba mencermatinya dari sudut pandang yang ga biasa..

golput, sebetulnya juga bisa dimaknai secara sangat positif. golput bisa berarti kita percaya bahwa semua orang yang mencalonkan diri adalah mereka yang punya niat baik untuk menyumbangkan sumberdaya yang dimiliki, hanya demi kemaslahatan masyarakat secara luas; dan mereka punya kesadaran diri berkait sumberdaya (fisik maupun non-fisik) yang mereka miliki. dengan pertimbangan itu, siapapun yang terpilih, pasti akan berdampak baik bagi kita semua. jadi, ga soal siapa yang terpilih.

golput, sebetulnya juga membuka kesempatan pada semua calon, untuk belajar jadi pribadi dewasa, ato nunjukkin kedewasaan pribadinya. artinya, ia sanggup (mau+mampu) dipercaya; sanggup diandalkan; sanggup memberi manfaat. jadi, ga perlu pake acara kampanye dan pemilihan akbar yang ngabisin banyak duit. cukup dengan kumpul bareng, lalu semua calon berembuh untuk bersepakat, siapa yang dipilih bertugas mewakili rakyat. kan, kalo kita pake pertimbangan kedewasaan, bukan soal siapa yang terpilih.. karena kita meyakini bahwa wakil yang terpilih akan berupaya menjalankan tugasnya demi memberi manfaat bagi masyarakat, karena ia pribadi dewasa yang sanggup dipercaya dan diandalkan.

golput, membuat duit yang abis buat pemilu bisa dipake buat mengentaskan kemiskinan ato mendukung perekonomian rakyat, walo gebyar pemilu ya juga membantu banyak sektor usaha karena banyak yang beli jasa bikin spanduk n perangkat pemilu yang lainnya. hehe..hehe..

jadi.. ayo golput.. supaya kita bisa liat.. diantara sekian calon, siapa yang cukup dewasa, sehingga kita bisa menilai.. siapa yang memang sudah pantas menjadi wakil rakyat.


Fenomena Tes IQ

February 27, 2009

Pertanyaan pertama yang selalu perlu diajukan sebelum kita membicarakan segala hal soal anak, adalah: “untuk kepentingan siapa, kita bicara soal itu? untuk kepentingan anak ataukah untuk kepentingan orangtua?”

Demikian juga dengan IQ. Kalau bicara tentang IQ, kita perlu jelas dulu apa yang dimaksud. IQ dalam artian angka nilai penunjuk tingkat kecerdasan, atau kita mau bicara kecerdasan yang secara ringkas bisa dipahami sebagai kemampuan untuk mengolah dan memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki agar dapat hidup lebih baik. Kalau kita bicara untuk kepentingan anak, maka kita bicara soal kecerdasan, bukan soal angka nilai penunjuk tingkat kecerdasan.

Kalau kita bicara soal kecerdasan, pada prinsipnya hal itu berkaitan erat dengan kemampuan belajar. Semakin tinggi tingkat kecerdasan individu, semakin tinggi juga kemampuan belajar yang dimiliki. Dengan demikian, wajar kalau individu yang kurang cerdas kurang memiliki minat belajar.

Masalahnya, kita tidak boleh secara membabi buta menyimpulkan bahwa anak yang kurang memiliki minat belajar adalah anak-anak yang kurang cerdas. Artinya, mereka yang kurang cerdas memang akan cenderung kurang memiliki minat belajar; tetapi mereka yang kurang memiliki minat belajar, tidak selalu berarti kurang cerdas. Ada banyak faktor yang membuat mereka tidak memiliki minat belajar, dan beberapa diantaranya sama sekali tidak berkaitan dengan kecerdasan.

Faktor paling rawan adalah kurangnya pemahaman orangtua dan/atau guru, tentang belajar. Seringkali, anak-anak jadi enggan atau malas belajar, justru karena mereka disuruh belajar. Tidak ada satupun anak yang mau disuruh belajar. Justru, kalau ada anak yang mau disuruh belajar, berarti ia ada di luar kategori normal. Hal ini penting diperhatikan karena berkaitan dengan proses perkembangan kecerdasan. Kalau kita mau anak-anak belajar, maka yang kita perlu lakukan adalah menyuruh mereka bermain. Makin banyak aktivitas bermain yang anak lakukan, makin banyak juga proses belajar yang terjadi, yang pada gilirannya berarti makin bagus juga perkembangan kecerdasannya.

Mengapa bermain? Ya, karena bermain akan mengakomodasi proses asimilasi (pertemuan informasi lama (di dalam ingatan) dan informasi baru) serta proses akomodasi (percampuran informasi lama dan informasi baru guna membentuk pemahaman dan pemaknaan baru). Hal ini yang akan membuat saraf-saraf di otak dirangsang untuk saling terhubung dan berkaitan. Hal itu yang membuat potensi kecerdasan seseorang bertumbuh dan berkembang mencapai batas optimal sesuai kapasitas yang dimiliki. Kalau tidak terjadi proses itu, maka saraf-saraf di otak itu akan seperti jalan-jalan di kompleks perumahan yang walaupun jalannya ada dan banyak, tapi buntu semua karena diportal, sehingga tetap saja tidak bisa dimanfaatkan secara optimal.

Selain asimilasi dan akomodasi, proses lain yang penting diperhatikan, bahkan juga menjadi faktor yang menentukan adanya perbedaan tingkat kecerdasan antar individu, adalah proses ekuilibrium. Ketika kita kemasukan informasi baru, maka sistem kecerdasan kita mengalami gangguan keseimbangan. Kalau proses ekuilibrium berjalan baik, maka proses asimilasi dan akomodasi akan berjalan baik. Kalau proses ekuilibrium tidak optimal, proses asimilasi dan akomodasi juga akan terganggu, sehingga proses belajar secara keseluruhan juga terganggu.

Berkait fenomena tes-IQ yang masih marak, hal yang paling perlu diperhatikan adalah untuk apa tes itu dilakukan. Artinya, kalau orangtua mengetahui angka nilai IQ yang dimiliki anak, apa tindaklanjutnya kemudian? Apa perbedaan yang akan memberikan nilai tambah untuk si anak, setelah diketahui angka nilai IQ yang dimiliki. Kalau memang tes itu dilakukan untuk kepentingan anak, maka orangtua punya tanggungjawab untuk memastikan pengetahuannya tentang angka nilai IQ anak akan membawa manfaat buat si anak.

Simpulan: keluar uang untuk mengetahui angka nilai IQ anak, tidak akan banyak memberi manfaat. Justru, keluar uang untuk menyediakan kesempatan seluas-luasnya untuk mencoba, menelusuri, meng-utak-atik, bertanya dan mencari jawaban, adalah hal yang akan jauh lebih bermanfaat buat anak-anak.

©20090225/ge4jtv/pojok.ibu.ibu


Energi Masa Lalu Dalam Kekinian

February 22, 2009

Bagi sebagian orang, keputusan untuk berpasangan juga diyakini sebagai upaya menyatukan dua dunia. Bukan hanya dua hati. Salah satu yang menjadi penting diperhatikan dalam situasi itu adalah saling berbagi masa lalu. Bagi sebagian orang, pengetahuan tentang masa lalu pasangan merupakan bagian dari perbekalan untuk menghadapi masa depan. Masalahnya, tidak jarang kebutuhan tersebut menghadapi hambatan bahkan juga tentangan dari sang pasangan. Atas dasar pertimbangan tertentu, pasangan mungkin saja menunjukkan keberatannya untuk berbagi masa lalu. Sesungguhnya, apakah berbagi masa lalu itu memang diperlukan dalam kehidupan berpasangan?

Pertama, kita perlu mencermati apa latar belakang yang mendorong sebagian orang menilai berbagi masa lalu itu perlu dilakukan. Pada umumnya, pihak yang mendukung upaya berbagi masa lalu juga menilai bahwa hal itu merupakan bagian dari keterbukaan antar pribadi. Bentuk dari sikap jujur dan kesediaan untuk menerima keterlibatan pasangan dalam hidupnya. Dengan demikian, perlu disadari adanya kebutuhan untuk dipercaya dan membangun kepercayaan terhadap pasangan; serta dorongan untuk bersiap menghadapi masa depan. Artinya, mereka punya kebutuhan untuk memastikan bahwa tidak akan ada hal-hal tak terduga yang muncul berkaitan dengan masa lalu sang pasangan dan bisa mengusik ketenteraman kehidupan berpasangan yang mereka bina bersama.

Kedua, kita perlu mencermati apa latar belakang yang mendorong sebagian orang enggan berbagi masa lalu dengan pasangannya. Selain faktor keterbukaan dan kejujuran yang tidak boleh diabaikan, pada umumnya pihak yang berkeberatan untuk berbagi masa lalu menyatakan bahwa mereka tidak mau lagi membuka luka lama atau mengingat-ingat apa yang pernah terjadi. Apapun alasannya. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk membebaskan diri dari ikatan masa lalu, terutama ikatan emosional yang tidak menyenangkan, dan membantu diri untuk dapat melanjutkan kehidupan yang terus bergerak ke depan.

Dari paparan itu, menjadi jelas bahwa perkara berbagi masa lalu itu sesungguhnya bersifat subjektif dan personal. Ada alasan yang dapat membenarkan pihak yang menginginkan adanya upaya berbagi masa lalu, juga ada alasan yang dapat membenarkan pihak yang enggan berbagi masa lalu. Masalah yang kemudian muncul adalah apa yang perlu dilakukan ketika dua orang yang memutuskan hidup berpasangan lalu berada pada kubu yang berseberangan, dalam hal berbagi masa lalu itu.

Sebelum berlanjut jauh, kita perlu mencermati pemahaman “dua menjadi satu” yang seolah menjadi sesuatu yang mutlak dalam kehidupan berpasangan. Hal ini yang antara lain sering memicu konflik berkaitan dengan masa lalu pasangan. Bagi sebagian orang, ketika memutuskan untuk berpasangan, itu berarti juga memutuskan untuk meleburkan diri bersama pasangan dan membangun kehidupan baru yang merupakan hasil percampuran dua pribadi. Untuk itu, perlu disadari bahwa relasi dalam konteks berpasangan tidak akan pernah (dapat) membuat dua pribadi melebur menjadi satu pribadi baru. Kehidupan berpasangan merupakan bentuk kerjasama antar-pribadi dalam rangka membangun sebuah kehidupan bersama, bukan membangun sebuah kehidupan (yang sama).

Berdasarkan pemahaman tentang kehidupan bersama, maka dua pribadi yang memutuskan menjalin relasi berpasangan, akan tetap menjadi dirinya sendiri-sendiri. Tidak melebur menjadi satu dan juga tidak berubah menjadi sama dengan pasangannya. Dengan demikian, perlu disadari bahwa masing-masing pihak tetap memiliki keunikan personal yang membuatnya berbeda satu sama lain. Masing-masing pihak juga akan memiliki perbedaan kesadaran akan hidupnya, sebagai akibat dan pengaruh dari wawasan dan pengalaman yang jelas berbeda. Untuk itu, semua pihak juga tetap perlu memiliki kesediaan menghargai keseluruhan pribadi pasangannya. Apa adanya dalam konteks faktual, bukan perseptual apalagi emosional.

Kemudian, hal mendasar lain yang juga perlu dipahami adalah bahwa perilaku selalu akan didorong oleh ketidaknyamanan dan selalu akan dimaksudkan untuk mendatangkan kenyamanan. Jadi, agar masalah itu dapat diselesaikan dan membuahkan kenyamanan bagi semua pihak yang terlibat, maka masing-masing perlu menyediakan diri untuk memahami ketidaknyamanan yang dialami pasangan, dan membuatnya punya harapan/ keinginan agar pasangannya jadi bersedia berbagi masa lalu, atau sebaliknya, jadi enggan berbagi masa lalu.

Setelah saling mengetahui dan memahami ketidaknyamanan yang dialami pasangan, diharapkan hal itu akan membuat masing-masing pihak memiliki keberpihakan terhadap pasangannya. Kondisi ini dimaksudkan supaya dorongan untuk meminta pasangan memenuhi kebutuhannya, dapat diimbangi oleh dorongan untuk memberi kesempatan agar kebutuhan pasangannya juga terpenuhi. Dari sinilah kemudian dapat diharapkan terjadi pembicaraan untuk membangun sebuah kesepakatan yang saling memenangkan.

Melalui upaya untuk saling memahami keinginan pasangan dan kesediaan semua pihak untuk saling bantu di dalam upaya memenuhi kebutuhan yang tercipta demi mendapatkan apa yang diinginkan, maka diharapkan kehidupan berpasangan yang terbina akan memiliki pondasi yang kokoh, dibentuk oleh rasa saling percaya dan kesediaan untuk saling dukung guna menopang komitmen berpasangan yang telah disepakati bersama.

let the heart feeling the way.. let your head leading your way..


bantuku membantumu

February 14, 2009

kala tak kuasa topang tubuhmu
kau lelap di gendonganku
kala tak bisa arahkan gerakmu
kau erat di genggamanku
bagimu ku ada, anakku..
demimu ku siaga, anakku..

kala jangkauanmu kian jauh
kau sebut serasa dipasung
kala gairahmu kian penuh
kau sebut serasa dipancung
bagimu ku ada, anakku..
demimu ku siaga, anakku..

kala rasamu mulai terpikat
ku tak mau kau terjerat
kala celakamu pun terkuak
ku tak mau kau terkoyak
bagimu ku ada, anakku..
demimu ku siaga, anakku..

kala duri hidup buatmu meringis
kau buatku ikut menangis
kala duka hidup buatmu susah hati
kau buatku ikut luka hati
bagimu ku ada, anakku..
demimu ku siaga, anakku..

salam,
ge


dosenku selebritas

February 13, 2009

di jawapos (10peb09), nina sukarwo (istri gubernur jatim terpilih) mengatakan akan mengurangi aktivitas sebagai pembimbing skripsi, setelah sekarang ia berstatus istri gubernur dan perlu menunaikan tugas-tugas sebagai istri gubernur. begini ucapannya: “jika tugas itu saya terima, mahasiswa bisa kelabakan karena sering saya tinggal ke luar daerah. bisa-bisa mahasiswa terlambat lulus gara-gara pembimbingnya sibuk di luar.”

buat temen-temen dosen.. terutama yang dapet tugas sebagai pembimbing skripsi ato tugas akhir kuliah, pernahkah pemikiran itu terlintas di benak? lepas dari masalah kurangnya jumlah dosen yang memenuhi kriteria teknis maupun administratif untuk membimbing, kepentingan mahasiswa toh tetap perlu dicermati juga. minimal, keterlambatan penyelesaian tugas akhir akibat kesibukan dosen pembimbing, akan membuat mahasiwa harus membayar biaya kuliah lebih banyak dari yang seharusnya.

alternatifnya, pihak perti mengijinkan sang mahasiwa ga bayar uang semesteran, selama keterlambatan itu diakibatkan kesibukan dosen. jadi, kerugian material bisa direduksi, walo kerugian immaterial tetap terjadi.

gimana? ada komen?


buat ratih yang lagi susah hati..

February 10, 2009

god help me..
my day is like a bubble
it’s now so easy to crumble
and make me feel terrible

mam help me..
it looks like impossible
to have you available
nor to have you a double

mom help me..
i know it still achievable
wish you know i am in a rumble
please give me no more trouble
i’ll do my best to make it possible


bundaku.. yandaku..

February 10, 2009

kala tak kuasa berdiri
kau latih ku mandiri
kala ku bisa sendiri
kau buat ku mati suri
apa salahku bunda
apa maumu yanda

melihat tingkah polahku
emosimu bergolak panas
melihat ku diam membatu
hatimu tergolek cemas
apa salahku bunda
apa maumu yanda


oh bunda.. oh yanda..

February 8, 2009

kala tak kuasa berucap
kau ajak ku bercakap
kala ku mahir berkata
kau buat ku terbata
apa salahku bunda
apa maumu yanda

mendengar celotehku
emosimu bergolak panas
tak mendengar suaraku
hatimu tergolek cemas
apa salahku bunda
apa maumu yanda

ge/080209/17:00


psikologi itu..

February 6, 2009

PSIKOLOGI

Gampangannya, psikologi adalah ilmu untuk memahami seluk beluk perilaku. Nah, perilaku, secara sederhana bisa dipahami sebagai berikut:

WHAT

Perilaku adalah hasil olahan dari pikiran, perasaan, tindakan dan kondisi fisik secara simultan. Jadi, perilaku akan optimal kalo keempat komponen itu bisa mufakat. Perilaku ga kenal istilah “suara terbanyak”. Jadi, kalo mereka ga bisa mufakat, hasilnya adalah perilaku yang kita sebut ragu-ragu.

WHEN

Perilaku terjadi ketika orang ngalamin kejadian ato situasi yang bikin dia ngrasa ga nyaman. Hal ini disebabkan situasi ga nyaman itu menimbulkan kebutuhan untuk melakukan sesuatu demi menjadi nyaman lagi. Makanya, para motivator kan biasanya nyaranin supaya kita keluar dari zona nyaman. Maksudnya, ya supaya kita jadi punya kebutuhan berperilaku. ;)

WHY

Perilaku dimaksudkan sebagai upaya mendapatkan ato mempertahankan kondisi nyaman yang kita mau ato punya. Soalnya, manusia itu adalah makhluk pecandu kenyamanan.

WHO

Karena manusia idup di dua alam, jadi pihak yang terlibat di dalam hal perilaku juga perlu dibedain berdasarkan dua alam itu. (1)aku dan diriku, ketika bicara dalam konteks perilaku di alam personal. (2)aku dan orang lain, ketika bicara dalam konteks perilaku di alam sosial.

WHERE

Perilaku selalu terjadi di sini dan sekarang. Oleh karenanya kita ya juga cuma bisa kendaliin segala sesuatu yang statusnya di sini dan sekarang. Semua hal yang statusnya kemaren ato besok, cuma bisa kita libatkan sebagai referensi.

HOW

Perilaku terjadi berdasarkan pola berpikir yang bersangkutan. Manusia yang pake pola pikir kanak-kanak, akan cenderung berorientasi pada kenikmatan semata. Jadi, perilakunya ditampilkan dengan cara-cara yang dia pikir bisa mendatangkan kenikmatan, di sini dan sekarang. Manusia yang pake pola pikir dewasa, ga melulu bicara soal kenikmatan, karena kedewasaan membuat manusia bisa paham tentang apa yang disebut tanggungjawab. Jadi, perilakunya bakalan ditampilin dengan cara-cara yang dia pikir bisa mendatangkan kenikmatan yang bertanggungjawab.

©toge_aprilianto/130308/olabot_bihevior


fu

February 2, 2009

kata “fu” ato “hok” yang biasa dipake sebagai simbol imlek, yang dalam bahasa indonesia bermakna “berkah”, ternyata merupakan kalimat (kumpulan 4 kata), yang dalam bahasa inggris berbunyi: [one] [man] in [a garden] with [the devine].

bukankah itu berkait kisah tentang adam?
berarti.. berkah itu emang berkait dengan relasi ketuhanan.
jadi, supaya dapet berkah, kita perlu membangun relasi ketuhanan yang kokoh.
berarti.. berkah itu.. personal n subjektif. tergantung persepsi kita terhadap kehidupan.
berarti.. kita semua, tiap hari.. senyatanya selalu dilimpahi berkah.
berarti.. perayaan imlek.. adalah saat kita ucap syukur atas berkah yang selalu berlimpah.
berarti.. perayaan imlek adalah saat mengucap harap supaya makin hari.. kita makin mahir mengelola berkah. ;)